February 19, 2017

Mimpi Semu

Bangunkan aku dari sebuah mimpi semu berkepanjangan
Menahun tercipta karena tak kunjung aku menemukan inti dari pelarian kanan kiri
Permainan yang tak pernah ku sukai, tapi terpaksa ku jalani

Dingin aku
Disergap rupa di tengah malam,
Tawanya
Matanya
Suaranya
Cara pikirnya
Begitu bijaksana.
Seperti yang diinginkan.
Bukan aku, tapi awalnya mereka.

Sebagaimana gelayut senja yang ku sukai, derai-derai hujan kesukaanku,
Ku pikir tanpa sadar di akhir akupun bersukaria
Berdendang untuk hal yang tak ada.
Untuknya.

Adalah sebuah kesalahan mengharap bintang jatuh di tempat yang sama
Menganggap ketiadaan dan berandai seakan nyata di muka
Memaksa untuk bertahan melawan ketidakmungkinan yang tercipta
Daripada harapan semu tak berjangka.
Sesaat arus bahagia berlari karena kuatnya dorongan kata,
Beriring pandangan demi pandangan dibagi, seakan meyakini sejalan atas mimpi yang takkan kunjung menepi.

Mencipta harap terlalu tinggi itu tak baik.
Terlebih pada manusia, sarang kekecewaan.
Sebuah kebijaksanaan asing yang lekat kemudian berseru,
"Maka bangunlah diri dari mimpi-mimpi semu yang tak pernah dimulai !!"


Yog, 19 Feb 2017

May 12, 2016

Dvasasa

berlari di kerumunan bukit alang-alang
menjamah angin
di bawah terik surya
menengadah,
harapan berbisik, usaha dikurung rapat
dalam perjalanan meretas angan
menikmati proses sebelum musim berganti lagi, dan lagi
merebahkan tubuh layu alang-alang
untuk kemudian tumbuh lagi

saat itu,
kita sedang melihatnya dari atas bukit.

May 2016

April 25, 2016

Pengagum

Berawal dari sebuah tangan yang ku terima meminta bantu dibawa jalan
dari asing baginya, namun rumah untukku.
Sebuah imbalan dibacakan padaku, sebagai tanda balas jasa atas bantuan
yang bertahun kemudian dilupakannya.
Terkadang aku membukanya, sesekali di masa lampau
Tapi logikaku selalu berselancar bebas hinggap di dahan satu
sibuk mengamati yang lain
Barisan pendaki di bukit-bukit baru tempatku menata diri.

Adalah matahari setengah tinggi, aku mulai memperhatikannya
Ketika dia bertanya siapa namaku, kemudian menuliskannya di lembar
Lalu tersenyum.
Aku mengaguminya karena dia begitu berpendar dalam ilmu
Namun tetap riuh saat kelompok kami menepi di tiap semester
Dia begitu suka sesuatu yang lama,
Jiwa-jiwa klasik dari buku-buku terbitan senja bacaannya, hipotesaku
Karena dia suka bicara begitu tua dari umurnya
Persamaan dimana aku selalu menemukan diriku yang sebenarnya, klasik.

Aku begitu mengagumi pikirannya, yang jauh lebih luas melahap objek tulisan dariku.
Keingintahuannya yang tak terelak membawanya maju dengan sangat baik
Pujian mengalir baik di muka maupun belakangnya
Hal-hal yang dia miliki adalah apa yang ingin tetuaku harapkan aku bisa seperti itu.
Aku mengaguminya
Ku pikir, dia tak begitu sadar langkahnya mampu
membuat ribuan bunga bermekaran sebelum musim semi
membuat pelangi hadir jauh sebelum awan menghirup uap air laut.

Aku mengaguminya..
(meski kadang aku ragu untuk melihatnya lama pada mata)

Mungkin karena dia begitu luwes berteman dan terkadang
ku pikir terlalu bersahabat, maka dia dengan mudah hadir di pikiran tiap insan
begitu pun juga mengapa dia kini hadir di tulisanku
(ha-hal yang nanti ‘kan ku ingat lagi dalam lowongku).
Dia begitu mudah untuk dicintai, tapi ku pikir akan ada barisan panjang pengagum rahasia maupun frontal
yang menunggu untuk dipanggil namanya dari dalam doanya.
Semoga dia akan selalu bersinar dan bahagia seperti ini
Karena aku,
seorang pengagum biasa,
mendoakannya seperti itu.


Yogyakarta, 22 April 2016

February 26, 2016

Langit Malam

Terkadang dalam beberapa kali kesempatan aku mencoba membuka suara
kiranya angin menghembuskan kata hatiku
Jauh membumbung tinggi ke angkasa.

Beku tak berkutik hanya mampu
menulis dan melukismu
di udara menghadap
Rembulan
yang tak pernah bisa bulat penuh
Tiap harinya.

Layarku akan tetap terus berkembang membawaku
Entah makin jauh darimu atau hanya seperti ini,
dekat.. Meski bayangku tak ada difigura mata cokelatmu.

Setiap waktu saat aku melihatmu, lalu berputar kepalaku.

Ribuan bintang selalu berlomba bersinar bersahutan di langit malam,
namun akan tetap terasa berbeda gemerlapnya

Ketika...

Sorot fokusku selalu jatuh pada bintang yang sama.

(Maka) bertanyalah lagi pertanyaan itu,
"Aku merindu. Mungkinkah semua penyamaran benteng ini tertangkap inderamu?"

Biarkan aku jadi kejora di matamu.




February 26, 2016
Yogyakarta.

Follow Me